Kitab Minuman
1.
Pengharaman khamar serta menerangkan bahwa khamar itu terbuat dari
perasan anggur, kurma basah, kurma kering dan lain sebagainya yang dapat
memabukkan
• Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata:
Aku
mendapat seekor unta bersama Rasulullah saw. dari rampasan perang
Badar. Dan Rasulullah saw. memberiku seekor unta yang lain. Pada suatu
hari aku menderumkan keduanya di depan pintu seorang sahabat Ansar, aku
hendak memuatkan idzkhir (sejenis tumbuh-tumbuhan) di atas kedua unta
tersebut untuk aku jual kepada seorang tukang emas dari Bani Qainuqa`
yang datang bersamaku. Uang penjualan itu akan kupergunakan membantu
walimah Fatimah ra. Pada saat itu, Hamzah bin Abdul Muthalib ra. sedang
minum minuman keras di rumah tersebut. Ia ditemani seorang budak
perempuan yang bernyanyi untuknya. Budak itu berkata: Hai Hamzah,
perhatikanlah unta-unta yang gemuk itu! Tiba-tiba Hamzah melompat ke
arah kedua untaku dengan pedang, lalu ia potong ponok keduanya dan ia
belah lambung keduanya, kemudian ia ambil hati keduanya. Aku katakan
kepada Ibnu Syihab: Dan bagaimana dengan ponoknya? Ia berkata:
Ponok-ponoknya di pangkas dan dibawa pergi. Kata Ibnu Syihab: Ali
berkata: Dan aku menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu. Lalu aku
mendatangi Rasulullah saw. yang pada saat itu Zaid bin Haritsah sedang
berada di dekat beliau. Aku pun menceritakan peristiwa tersebut.
Kemudian beliau bersama Zaid keluar dan aku juga ikut bersama beliau.
Lalu beliau masuk menemui Hamzah dan marah kepadanya. Hamzah mengangkat
pandangannya, kemudian berkata: Kalian ini tidak lain hanyalah
budak-budak bapakku! Rasulullah saw. kemudian mundur ke belakang lalu
meninggalkan mereka. (Shahih Muslim No.3660)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku
sedang memberi minum para tamu di rumah Abu Thalhah, pada hari khamar
diharamkan. Minuman mereka hanyalah arak yang terbuat dari buah kurma.
Tiba-tiba terdengar seorang penyeru menyerukan sesuatu. Abu Thalhah
berkata: Keluar dan lihatlah! Aku pun keluar. Ternyata seorang penyeru
sedang mengumumkan: Ketahuilah bahwa khamar telah diharamkan. Arak
mengalir di jalan-jalan Madinah. Abu Thalhah berkata kepadaku: Keluarlah
dan tumpahkan arak itu! Lalu aku menumpahkannya (membuangnya).
Orang-orang berkata: Si polan terbunuh. Si polan terbunuh. Padahal arak
ada dalam perutnya. (Perawi hadis berkata: Aku tidak tahu apakah itu
juga termasuk hadis Anas). Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat:
Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
karena makanan yang telah mereka makan dahulu, asal mereka bertakwa
serta beriman dan mengerjakan amal-amal saleh. (Shahih Muslim No.3662)
2. Makruh membuat minuman dari kurma dan anggur kering yang dicampur
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.:
Bahwa
Nabi saw. melarang anggur kering dicampur dengan kurma atau kurma yang
belum matang dengan kurma yang matang. (Shahih Muslim No.3674)
• Hadis riwayat Abu Qatadah ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Janganlah kalian membuat minuman kurma setengah matang
(mengkal) dan kurma matang sekaligus. Janganlah kalian membuat minuman
anggur dan kurma sekaligus. Masaklah masing-masing dari keduanya secara
terpisah. (Shahih Muslim No.3681)
3.
Larangan membuat nabiz dalam wadah yang dicat dengan teer, dalam labu
kering, panci seng, kayu yang dilubangi, dan menerangkan bahwa larangan
itu dihapus dan sekarang halal asal tidak memabukkan
• Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melarang pembuatan minuman dalam kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3693)
• Hadis riwayat Aisyah, Ummul Mukminin ra.:
Dari
Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Ummul Mukminin: Wahai Ummul
Mukminin! Beritahukanlah kepadaku, apa yang dilarang oleh Rasulullah
saw. untuk dijadikan bahan membuat minuman! Ummul Mukminin berkata:
Rasulullah saw. melarang kami ahlulbait membuat minuman nabidz dalam
kulit labu dan wadah yang dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3694)
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra.:
Dari
Said bin Jubair ia berkata: Aku bersaksi bahwa Ibnu Umar ra. dan Ibnu
Abbas ra. menyaksikan bahwa Rasulullah saw. melarang kulit labu,
tempayan, wadah yang dicat dengan teer dan kayu yang dilubangi. (Shahih
Muslim No.3705)
• Hadis riwayat Abdullah bin Amru ra., ia berkata:
Ketika
Rasulullah saw. melarang nabiz dalam beberapa bejana, orang-orang
berkata: Tidak setiap orang mempunyai bejana lain. Lalu Rasulullah saw.
memberikan kemurahan (dispensasi) kepada mereka, boleh minum dalam guci
yang tidak dicat dengan teer. (Shahih Muslim No.3726)
4. Menerangkan bahwa setiap yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram
• Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap
minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)
5. Balasan peminum khamar yang belum bertobat di akhirat
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Setiap minuman yang memabukkan adalah khamar dan setiap
yang memabukkan adalah haram. Barang siapa minum khamar di dunia lalu ia
mati dalam keadaan masih tetap meminumnya (kecanduan) dan tidak
bertobat, maka ia tidak akan dapat meminumnya di akhirat (di surga).
(Shahih Muslim No.3733)
6. Boleh minum nabiz yang belum mengeras dan belum berubah menjadi khamar
• Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Abu
Usaid As-Saidi mengundang Rasulullah saw. pada pesta perkawinannya.
Pada waktu itu isterinya yang sedang menjadi pengantin juga melayani
para tamu. Kata Sahal sesudah itu, tahukah kalian apa yang telah
diberikan oleh isteriku kepada Rasulullah saw. sebagai minuman? Ia
(isteriku) telah merendam beberapa buah kurma pada malam hari dalam
sebuah mangkuk. Ketika Rasulullah saw. makan, ia berikan rendaman kurma
itu sebagai minuman beliau. (Shahih Muslim No.3746)
• Hadis riwayat Sahal bin Saad ra.:
Ketika
kepada Rasulullah saw. dituturkan tentang seorang wanita Arab, beliau
menyuruh Abu Usaid untuk memanggilnya. Wanita itupun dipanggil. Wanita
itu datang dan singgah di kediaman Bani Saidah. Rasulullah saw. keluar
dan datang untuk menemuinya. Ternyata wanita itu menundukkan kepalanya.
Tatkala Rasulullah saw. mengajaknya berbicara, ia berkata: Aku
berlindung kepada Allah darimu. Rasulullah saw. bersabda: Baiklah, aku
benar-benar telah melindungimu dari diriku. Sesudah itu orang-orang
bertanya kepadanya: Tahukah kamu siapa yang berbicara denganmu tadi?
Wanita itu menjawab: Tidak! Orang-orang memberitahu: Itu adalah
Rasulullah saw. Beliau datang untuk melamarmu. Wanita itu berkata: Aku
benar-benar sial kalau begitu (karena batal menjadi isteri Nabi saw.).
Kata Sahal: Pada hari itu Rasulullah saw. datang dan bersama para
sahabat beliau duduk di bangsal Bani Saidah kemudian beliau bersabda:
Berilah kami minum! (ditujukan kepada Sahal). Dia berkata: Lalu aku
mengeluarkan mangkuk ini untuk mereka dan memberi minum mereka dengan
mangkuk tersebut. (Shahih Muslim No.3747)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku
benar-benar pernah memberi minum Rasulullah saw. dengan gelasku ini,
semua minuman, madu, nabiz, air dan susu. (Shahih Muslim No.3748)
7. Boleh minum susu
• Hadis riwayat Abu Bakar As-Sidik ra., ia berkata:
Pada
waktu kami keluar bersama Rasulullah saw. dari Mekah menuju Madinah,
kami melewati seorang penggembala kambing. Ketika itu Rasulullah saw.
benar-benar merasa haus. Lalu aku memerahkan sedikit susu untuk beliau.
Susu itu aku bawa kepada beliau dan beliau meminumnya hingga aku merasa
puas. (Shahih Muslim No.3749)
8. Tentang minum nabiz dan menutupi wadah
• Hadis riwayat Abu Humaid As-Saidi ra., ia berkata:
Aku
datang kepada Nabi saw. membawa segelas susu dari naqie' yang tidak
tertutup lalu Rasulullah saw. bersabda: Mengapa kamu tidak menutupnya
meskipun dengan melintangkan sebatang kayu di atasnya? Abu Humaid
menjawab: Sesungguhnya telah diperintahkan untuk membuka minuman pada
malam hari dan menutup pintu pada malam hari. (Shahih Muslim No.3752)
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Kami
sedang bersama Rasulullah saw. Beliau meminta minum. Lalu seseorang
bertanya: Ya Rasulullah! Bolehkah aku hidangkan nabiz kepadamu?
Rasulullah saw. menjawab: Ya, boleh. Orang itupun keluar untuk mencari
kemudian datang lagi dengan membawa gelas berisi nabiz. Rasulullah saw.
bersabda: Mengapa engkau tidak menutupinya meskipun hanya dengan
meletakkan kayu di atasnya! Lalu beliau meminumnya. (Shahih Muslim
No.3753)
9.
Perintah menutup wadah, mengikat gereba, menutup pintu dan menyebut nama
Allah ketika melakukan semua itu, mematikan lampu dan api ketika hendak
tidur, serta menahan anak-anak dan ternak sesudah Magrib
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
Dari
Rasulullah saw. beliau bersabda: Tutuplah wadah, ikatlah gereba (tempat
minum dari kulit), kuncilah pintu dan padamkanlah lampu. Sesungguhnya
setan tidak dapat menguraikan tali gereba, tidak dapat membuka pintu dan
tidak dapat menyingkap wadah. Jika seseorang di antara kalian hanya
dapat melintangkan sebatang kayu di atas wadahnya lalu menyebut nama
Allah, maka hendaklah ia lakukan itu sebab tikus dapat mencelakakan
penghuni rumah dengan membakar rumahnya. (Shahih Muslim No.3755)
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari
Nabi saw., beliau bersabda: Jangan kalian biarkan api menyala di
rumah-rumah kalian ketika kalian tidur. (Shahih Muslim No.3759)
• Hadis riwayat Abu Musa ra. beliau berkata:
Sebuah
rumah berikut penghuninya terbakar di Madinah pada suatu malam. Ketika
keadaan mereka diceritakan kepada Nabi saw., beliau bersabda:
Sesungguhnya api ini merupakan musuh kalian karena itu apabila kalian
hendak tidur, maka matikanlah api tersebut. (Shahih Muslim No.3760)
10. Adab makan dan minum serta hukum-hukumnya
• Hadis riwayat Umar bin Abu Salamah ra., ia berkata:
Ketika
aku dalam asuhan Rasulullah saw., pada saat makan tanganku terjulur
hendak menjangkau talam lalu Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Hai anak
muda! Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah
makanan yang terdekat darimu. (Shahih Muslim No.3767)
• Hadis riwayat Abu Said ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melarang membalikkan gereba (untuk minum dari mulutnya). (Shahih Muslim No.3769)
11. Tentang minum air Zamzam sambil berdiri
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Aku memberi minum air Zamzam kepada Rasulullah saw. lalu beliau minum sambil berdiri. (Shahih Muslim No.3776)
12. Makruh menghembuskan napas di dalam wadah minuman dan dianjurkan menghembuskan napas tiga kali di luar wadah
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. biasa menarik napas tiga kali di dalam wadah. (Shahih Muslim No.3781)
13. Dianjurkan (disunatkan) mengedarkan air atau susu dan sebagainya ke sebelah kanan orang yang memulai minum
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa
Rasulullah saw. ketika dibawakan susu yang dicampur dengan air, di
kanan beliau terdapat seorang badui sedangkan di kiri beliau adalah Abu
Bakar. Beliau pun minum kemudian memberikannya kepada orang badui seraya
bersabda: Gilirlah ke kanan lalu ke kanannya lagi. (Shahih Muslim
No.3783)
• Hadis riwayas.t Sahal bin Saad As-Saidi ra.:
Bahwa
Rasulullah saw. dibawakan minuman. Beliau pun meminumnya. Ketika itu di
kanan beliau ada seorang anak muda, sedangkan di kiri beliau ada
orang-orang tua. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada anak muda: Apakah
engkau mengizinkan aku memberikan giliran minum ini kepada mereka
(orang-orang tua yang berada di sebelah kiri beliau)? Anak muda itu
menjawab: Tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan lebih dulu
bagianku darimu kepada seorang pun. Maka Rasulullah saw. meletakkan
minuman itu ke tangan anak muda. (Shahih Muslim No.3786)
14.
Dianjurkan menjilati jari-jari dan talam serta memakan suapan yang
jatuh sesudah membersihkan kotoran yang mengenainya dan makruh
membersihkan tangan sebelum dijilati
• Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Apabila seseorang di antara kalian memakan makanan, maka
janganlah ia mengusap tangannya sebelum dijilati (untuk membersihkan
sisa makanan) atau menyuruh orang lain untuk menjilatinya. (Shahih
Muslim No.3787)
15.
Apa yang mesti dilakukan orang yang tidak diundang oleh pemilik makanan
dan sunat bagi pemilik makanan memberi izin pengikut itu
• Hadis riwayat Abu Masud Al-Anshari ra., ia berkata:
Ada
seorang lelaki Ansar bernama Abu Syuaib, yang mempunyai pembantu
penjual daging. Pada suatu hari ia melihat Rasulullah saw. tampak lapar.
Maka ia berkata kepada pembantunya: Buatkanlah makanan untuk lima orang
karena aku ingin mengundang Nabi saw. sebagai orang kelima dari lima
orang tersebut. Si pembantu itu melaksanakan perintah itu. Kemudian ia
datang kepada Nabi saw. untuk mengundang beliau sebagai salah satu dari
lima orang (yang diundang lima orang termasuk Nabi saw.). Tetapi
ternyata ada seorang lagi yang ikut. Ketika sampai di depan pintu,
Rasulullah saw. bersabda: Orang ini ikut kami, jadi terserah kepadamu
apakah engkau memberinya izin ataukah ia harus kembali. Abu Syuaib
menjawab: Tidak apa wahai Rasulullah! Aku izinkan dia. (Shahih Muslim
No.3797)
16.
Boleh mengajak orang lain ke rumah orang yang diyakini tidak merasa
keberatan akan hal itu dan sunat berkumpul dihadapan makanan
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Ketika
khandaq (parit) digali, aku melihat keadaan Rasulullah saw. sangat
lapar. Maka aku pun segera kembali menemui isteriku dan menanyakan
kepadanya: Apakah engkau mempunyai sesuatu (makanan)? Sebab aku melihat
Rasulullah saw. sangat lapar. Isteriku mengeluarkan kantong kulit berisi
satu sha` gandum. Dan kami mempunyai seekor anak domba jinak. Sementara
aku menyembelihnya, isteriku menumbuk gandum dan ketika ia selesai, aku
pun selesai. Aku memotong-motong daging anak domba itu dan
memasukkannya ke dalam kuali kemudian ketika aku hendak pergi
memberitahukan Rasulullah saw. isteriku berpesan: Jangan engkau
membuatku malu kepada Rasulullah saw. dan orang-orang yang bersama
beliau. Maka aku pun menghampiri Rasulullah saw. dan berbisik kepada
beliau: Wahai Rasulullah saw.! Kami telah menyembelih anak domba kami
dan isteriku menumbuk satu sha` gandum yang ada pada kami. Karena itu,
kami mempersilakan engkau dan beberapa orang bersamamu. Tiba-tiba
Rasulullah saw. berseru: Hai para penggali parit! Jabir telah membuat
jamuan makan untuk kalian. Silahkan kalian semua ke sana! Lalu
Rasulullah saw. bersabda kepadaku: Jangan engkau turunkan kualimu dan
jangan engkau buat roti adonanmu sebelum aku datang. Aku datang bersama
Rasulullah saw. mendahului orang-orang. Aku menemui isteriku. Ia
mendampratku: Ini semua gara-gara kamu! Aku berkata: Aku telah kerjakan
semua pesanmu. Setelah itu kukeluarkan adonan roti kami lalu Rasulullah
saw. meludahinya dan memberkatinya. Kemudian beliau menuju ke kuali kami
dan beliau meludahinya serta memberkatinya. Setelah itu beliau
bersabda: Sekarang panggillah pembuat roti untuk membantumu dan
sendoklah dari kualimu, tapi jangan engkau turunkan. Ternyata kaum
muslimin yang datang ada seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, mereka
semua makan sampai kenyang dan pulang. Sementara itu, kuali kami masih
mendidih seperti semula, demikian juga adonan roti masih tetap seperti
sediakala. Atau seperti yang dikatakan oleh Dhahhak: Ia masih dapat
dibuat roti seperti semula. (Shahih Muslim No.3800)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Abu
Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: Aku mendengar suara Rasulullah saw.
sedemikian lemah. Aku tahu beliau lapar. Apakah engkau mempunyai
sesuatu? Ummu Sulaim menjawab: Ya! Lalu dia mengeluarkan beberapa roti
dari gandum. Kemudian ia mengambil kerudungnya dan membungkus roti itu
dengan sebagian kerudung lalu ia sisipkan di bawah bajuku, sedangkan
sebagian kerudung ia selendangkan kepadaku. Kemudian ia menyuruhku pergi
ke tempat Rasulullah saw. Aku pun berangkat membawa roti berbungkus
kerudung itu. Aku temukan Rasulullah saw. sedang duduk di dalam mesjid
bersama banyak orang. Aku menghampiri mereka. Rasulullah saw. bertanya:
Apakah Abu Thalhah menyuruhmu? Aku menjawab: Ya, benar! Rasulullah saw.
bertanya lagi: Untuk makan? Aku menjawab: Ya! Rasulullah saw. bersabda
kepada orang-orang yang bersama beliau: Bangunlah kalian! Rasulullah
saw. berangkat diiringi para sahabat dan aku berjalan di depan mereka
untuk segera memberitahu Abu Thalhah. Maka berkatalah Abu Thalhah: Hai
Ummu Sulaim! Rasulullah saw. telah datang bersama banyak orang padahal
kita tidak mempunyai makanan untuk menyuguhi mereka. Ummu Sulaim
menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Lalu Abu Thalhah menjemput
Rasulullah saw. untuk datang dan beliau masuk bersama Abu Thalhah.
Rasulullah saw. bersabda: Wahai Ummu Sulaim, bawalah ke sini apa yang
engkau miliki! Ummu Sulaim datang membawa roti tersebut. Lalu memeras
wadah suaminya untuk lauk-pauk roti. Kemudian Rasulullah saw. mendoakan
makanan itu. Setelah itu beliau bersabda: Biarkan sepuluh orang masuk!
Abu Thalhah memanggil mereka (sepuluh orang). Mereka makan sampai
kenyang lalu keluar. Rasulullah saw. bersabda: Biarkan sepuluh orang
masuk lagi. Sepuluh orang berikutnya masuk, makan sampai kenyang lalu
keluar. Kembali Rasulullah saw. bersabda: Suruhlah sepuluh orang masuk
lagi. Demikian berlangsung terus hingga semua orang makan dan kenyang
padahal jumlahnya ada sekitar tujuh puluh atau delapan puluh orang.
(Shahih Muslim No.3801)
17.
Boleh memakan kuah dan dianjurkan memakan labu serta boleh sebagian
orang yang menghadapi hidangan mempersilakan sebagian yang lain meskipun
mereka semua sebagai tamu kalau memang pemilik makanan tidak
berkeberatan
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Seorang
penjahit mengundang Rasulullah saw. untuk menghadiri suatu jamuan
makan. Kata Anas: Aku berangkat bersama Rasulullah saw. menghadiri
jamuan makan tersebut. Kepada Rasulullah saw. tuan rumah menghidangkan
roti dari gandum serta kuah berisi labu dan dendeng. Anas berkata: Aku
melihat Rasulullah saw. mencari labu dari seputar mangkuk kuah itu.
(Shahih Muslim No.3803)
18. Memakan mentimun dengan kurma
• Hadis riwayat Abdullah bin Jakfar ra., ia berkata:
Aku pernah melihat Rasulullah saw. memakan mentimun dengan kurma. (Shahih Muslim No.3806)
19. Dianjurkan orang yang sedang makan merendahkan diri serta sifat duduknya
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Aku pernah melihat Rasulullah saw. duduk bersimpuh sambil memakan kurma. (Shahih Muslim No.3807)
20.
Larangan bagi orang yang makan bersama memakan sekaligus dua buah kurma
dan sebagainya dalam satu suapan kecuali dengan seizin teman-temannya
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Pernah
Ibnu Zubair memberi kami kurma. Ketika itu orang-orang sedang ditimpa
kesengsaraan. Pada saat kami tengah makan, tiba-tiba Ibnu Umar ra.
lewat. Beliau menegur: Jangan kalian memakan dua kurma sekaligus. Karena
sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarang perbuatan demikian, kecuali
seseorang minta izin lebih dahulu kepada teman makannya. (Shahih Muslim
No.3809)
21. Keutamaan kurma Madinah
• Hadis riwayat Saad ra.:
Bahwa
Rasulullah saw. pernah bersabda: Barang siapa makan tujuh buah kurma di
antara dua tanah tak berpasir Madinah pada waktu pagi, maka racun tidak
akan membahayakannya sampai sore hari. (Shahih Muslim No.3813)
22. Kelebihan cendawan dan mengobati mata dengannya
• Hadis riwayat Said bin Zaid bin Amru bin Nufail ra. ia berkata:
Aku
pernah mendengar Nabi saw. bersabda: Cendawan itu sejenis manna dan
airnya dapat untuk mengobati mata. (Shahih Muslim No.3816)
23. Keutamaan buah pohon arak yang hitam
• Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Ketika
sedang berada bersama Nabi saw. di lintasan Dhahran, kami memetik buah
kabats (buah pohon arak yang telah matang yaitu pohon yang kayunya biasa
untuk siwak). Lalu Rasulullah saw. bersabda: Ambillah yang hitam
daripadanya. Kami berkata: Wahai Rasulullah! Seakan-akan engkau pernah
menggembalakan kambing. Rasulullah saw. bersabda: Benar! Setiap nabi
pasti pernah menggembalakan kambing. (Shahih Muslim No.3822)
24. Menghormati tamu dan keutamaan mempersilakannya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Seorang
lelaki datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata: Aku sangat
menderita. Rasulullah saw. bertanya kepada salah seorang isteri beliau,
tetapi mendapat jawaban: Demi Zat yang mengutusmu membawa kebenaran, aku
hanya mempunyai air. Rasulullah saw. bertanya kepada isteri beliau yang
lain tetapi mendapat jawaban yang sama. Dan semua isteri beliau
memberikan jawaban yang sama: Tidak, demi Zat yang mengutusmu membawa
kebenaran! Aku tidak mempunyai apapun selain air. Maka Rasulullah saw.
mengumumkan: Siapakah yang mau menjamu orang ini, semoga Allah
merahmatinya. Seorang sahabat dari Ansar berdiri dan berkata: Aku wahai
Rasulullah! Lalu diajaknya orang itu ke rumah. Sahabat Ansar itu
bertanya kepada isterinya: Apakah kamu mempunyai sesuatu? isterinya
menjawab: Tidak, kecuali makanan anak-anakku. Sahabat itu berkata:
Alihkanlah perhatian mereka dengan sesuatu. Nanti kalau tamu kita masuk,
padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita sedang makan.
Apabila ia hendak makan, maka hampirilah lampu dan matikanlah. Mereka
pun duduk, sementara tamu mereka makan. Pada keesokan harinya, ketika
bertemu Nabi saw., beliau bersabda: Allah benar-benar kagum terhadap
perbuatan kalian berdua kepada tamu kalian tadi malam. (Shahih Muslim
No.3829)
• Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakar ra., ia berkata:
Kami
berjumlah 130 orang sedang bersama Nabi saw. lalu Nabi saw. bertanya:
Adakah salah seorang di antara kalian mempunyai makanan? Ternyata ada
seorang yang mempunyai kira-kira satu sha` gandum yang lalu dibuat
adonan. Kemudian datang seorang lelaki musyrik tinggi yang kusut
rambutnya menggiring kambing. Nabi saw. bertanya: Ini dijual atau
diberikan atau dihadiahkan? Orang itu menjawab: Dijual! Rasulullah saw.
membeli seekor kambing darinya. Setelah disembelih, Rasulullah saw.
menyuruh diambil hatinya untuk dipanggang. Kata Abdurrahman bin Abu
Bakar: Demi Allah! Kami berseratus tiga puluh orang seluruhnya
mendapatkan sepotong hati kambing dari Rasulullah saw. Jika orang itu
hadir maka Rasulullah saw. memberikannya dan kalau tidak ada Rasulullah
saw. menyimpannya. Makanan itu dibagi dalam dua talam. Kami semua makan
dari kedua talam itu dan kenyang. Sisa yang ada pada kedua talam
tersebut aku bawa ke atas unta. (Shahih Muslim No.3832)
• Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakar ra.:
Bahwa
yang disebut Ashabus Suffah adalah orang-orang miskin. Dan Rasulullah
saw. pernah bersabda pada suatu kali: Barang siapa mempunyai makanan
untuk dua orang hendaklah ia mengajak orang ketiga. Dan barang siapa
mempunyai makanan untuk empat orang maka hendaklah ia mengajak orang
kelima, keenam... atau semacam itulah sabda beliau. Abu Bakar pernah
membawa tiga orang. Nabi saw. pergi dengan sepuluh orang, sedangkan Abu
Bakar dengan tiga orang. Abdurrahman berkata: Yaitu dia, aku, ayahku dan
ibuku dan aku tidak tahu apakah dia berkata: Dan isteriku serta
pembantu sedang di perjalanan antara rumah kami dan rumah Abu Bakar. Ia
berkata: Sesungguhnya Abu Bakar makan malam di tempat Nabi saw. dan
terus berada di sana hingga salat Isyak. Setelah salat, ia kembali ke
tempat Nabi saw. lagi sampai Rasulullah saw. mengantuk. Sesudah lewat
tengah malam, barulah ia pulang. Isterinya menyambut dengan pertanyaan:
Apa yang menahanmu untuk pulang menemui tamu-tamumu (atau ia berkata
seorang tamumu)? Abu Bakar balik bertanya: Bukankah engkau telah
memberikan jamuan makan malam kepada mereka? Isterinya menjawab: Mereka
tidak mau makan sebelum engkau datang padahal anak-anak sudah
mempersilakan, tetapi mereka tetap tidak mau. Kata Abdurrahman: Aku pun
menyingkir untuk bersembunyi. Lalu terdengar Abu Bakar memanggil: Hai
dungu! Diikuti dengan sumpah seranah. Dan kepada para tamunya, ia
berkata: Silahkan makan! Mungkin makanan ini sudah tidak enak lagi.
Kemudian ia bersumpah: Demi Allah, aku tidak akan memakan makanan ini
selamanya! Abdurrahman meneruskan ceritanya: Demi Allah, kami tidak
mengambil sesuatupun kecuali sisanya bertambah lebih banyak lagi sampai
ketika kami sudah merasa kenyang, makanan itu menjadi lebih banyak dari
semula. Abu Bakar memandangnya ternyata makanan itu tetap seperti semula
atau bahkan lebih banyak lagi. Ia berkata kepada isterinya: Hai saudari
Bani Firas apa ini? Isterinya menyahut: Oh tidak! Demi cahaya mataku!
Sungguh sekarang makanan itu menjadi tiga kali lipat lebih banyak dari
semula. Lalu Abu Bakar makan dan berkata: Sumpahku tadi adalah dari
setan. Ia makan sesuap kemudian membawa makanan tersebut kepada
Rasulullah saw. dan membiarkannya di sana hingga pagi hari. Lebih lanjut
Abdurrahman berkata: Pada waktu itu di antara kami (kaum muslimin) dan
suatu kaum terdapat suatu perjanjian. Sesudah lewat batas waktu, kami
menjadikan dua belas orang sebagai kepala seksi yang masing-masing
membawahi beberapa orang. Hanya Allah yang tahu berapa orang yang
menyertai masing-masing kepala seksi tersebut. Yang pasti Rasulullah
saw. memanggil mereka semua. Lalu seluruhnya makan dari makanan yang
dibawa Abu Bakar. (Atau seperti yang dikisahkan Abdurrahman). (Shahih
Muslim No.3833)
25. Keutamaan saling membantu dalam makanan sedikit dan bahwa makanan dua orang cukup untuk tiga orang dan seterusnya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Makanan dua orang itu cukup untuk tiga orang dan makanan
tiga orang cukup untuk empat orang. (Shahih Muslim No.3835)
26. Orang mukmin makan dalam satu usus sedangkan orang kafir makan dalam tujuh usus
• Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari
Nabi saw., beliau bersabda: Orang kafir itu makan dalam tujuh usus
sedangkan orang mukmin makan dalam satu usus. (Shahih Muslim No.3839)
• Hadis riwayat Abu Musa ra.:
Dari Nabi saw. yang bersabda: Orang mukmin makan dalam satu usus dan orang kafir makan dalam tujuh usus. (Shahih Muslim No.3842)
27. Tidak boleh mencela makanan
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila beliau menyukai
maka beliau memakannya dan kalau tidak menyukai maka beliau tidak
memakannya (tanpa mencela). (Shahih Muslim No.3844)
No comments:
Post a Comment