Kitab Tobat
1. Anjuran untuk bertobat dan bergembira dengannya
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Ia
berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah
akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya yang beriman daripada
seseorang yang berada di tanah tandus yang berbahaya bersama hewan
tunggangan yang membawa bekal makanan dan minumannya. Lalu dia tidur
kemudian ketika bangun didapati hewan tunggangannya tersebut telah
menghilang. Dia pun segera mencarinya sampai merasa dahaga kemudian dia
berkata dalam hatinya: Sebaiknya saya kembali ke tempat semula dan tidur
di sana sampai saya mati. Lalu dia tidur dengan menyandarkan kepalanya
di atas lengan sampai mati. Tetapi ketika ia terbangun didapatinya hewan
tunggangannya telah berada di sisinya bersama bekal makanan dan
minuman. Allah lebih senang dengan tobat seorang hamba mukmin, daripada
orang semacam ini yang menemukan kembali hewan tunggangan dan bekalnya.
(Shahih Muslim No.4929)
• Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Sungguh Allah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya
ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara
kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat
tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya
dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia
menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena
telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia
dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di
hadapan. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap
dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku
adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira.
(Shahih Muslim No.4932)
2. Tentang besarnya kasih sayang Allah Taala yang senantiasa mendahului murka-Nya
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa
Nabi saw. bersabda: Tatkala Allah menciptakan makhluk, Allah telah
menuliskan dalam kitab catatan-Nya yang berada di sisi-Nya di atas arsy
bahwa sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku. (Shahih Muslim
No.4939)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Aku
mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah telah menjadikan kasih
sayang-Nya terbagi dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh
sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari
satu bagian itulah para makhluk saling kasih-mengasihi sehingga seekor
induk binatang mengangkat cakarnya dari anaknya karena takut melukainya.
(Shahih Muslim No.4942)
• Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Bahwa
ia datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa beberapa orang
tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang
mencari-cari, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan
dia langsung mengambil bayi itu lalu mendekapkannya ke perut untuk
disusui. Lalu Rasulullah saw. berkata kepada kami: Bagaimana pendapat
kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?
Kami menjawab: Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak
melemparnya. Rasulullah saw. bersabda: Sungguh Allah lebih mengasihi
hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya. (Shahih Muslim No.4947)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa
Rasulullah saw. bersabda: Terdapat seorang lelaki yang belum pernah
melakukan satu kebajikan pun berkata kepada keluarganya apabila dia
mati, maka hendaklah mereka membakar jenazahnya lalu menebarkan setengah
dari abunya ke daratan dan yang setengah lagi ke lautan. Demi Allah!
Jika sekiranya Allah kuasa atasnya, tentu Dia akan menyiksanya dengan
siksaan yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang pun di dunia ini.
Kemudian ketika orang itu meninggal mereka segera melaksanakan apa yang
diperintahkan. Lalu Allah memerintahkan daratan untuk mengumpulkan abu
jenazahnya yang ditebarkan kepadanya, dan memerintahkan lautan untuk
mengumpulkan abu jenazahnya yang ditebarkan kepadanya. Kemudian Allah
berfirman: Mengapa kamu melakukan ini? Orang itu menjawab: Karena takut
kepada-Mu wahai Tuhanku padahal Engkau sendiri lebih mengetahui. Lalu
Allah mengampuni orang tersebut. (Shahih Muslim No.4949)
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Dari
Nabi saw. bahwa seorang lelaki di antara umat sebelum kalian telah
Allah karuniakan harta kekayaan dan anak keturunan, lalu ia berpesan
kepada anak-anaknya: Kamu sekalian harus melakukan apa yang aku
perintahkan kalau tidak maka aku akan mengalihkan harta warisanku kepada
orang lain. Jika aku telah meninggal nanti, maka bakarlah jenazahku.
Sejauh pengetahuanku orang itu juga berkata: Kemudian tumbuklah sampai
halus (abu sisa pembakaran itu) lalu tebarkanlah ke arah hembusan angin
karena aku sama sekali tidak menyimpan satu kebajikan pun di sisi Allah
padahal Allah berkuasa untuk menyiksaku. Lalu orang itu mengambil
perjanjian dengan mereka. Demi Tuhan, mereka pun melaksanakan perintah
itu. Allah bertanya kepada orang itu: Apa yang membuatmu berbuat
demikian? Orang itu menjawab: Rasa takut terhadap-Mu. Jadi, alasan
perbuatannya itu tiada lain hanyalah karena takut kepada Allah. (Shahih
Muslim No.4952)
3. Diterimanya tobat dari segala dosa, meskipun dosa dan tobat diperbuat berulang kali
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra:
Dari
Nabi saw. tentang yang beliau riwayatkan dari Tuhannya, beliau
bersabda: Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa lalu berdoa: "Ya
Allah, ampunilah dosaku". Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat
dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni
dosa atau akan menghukum karena dosa itu. Kemudian orang itu mengulangi
perbuatan dosa, lalu berdoa lagi: Wahai Tuhan-ku, ampunilah dosaku.
Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui
bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena
dosa itu. Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa: Wahai
Tuhanku, ampunilah dosaku. Allah Taala berfirman: Hamba-Ku telah berbuat
dosa dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni
dosa atau menghukum karena dosa itu serta berbuatlah sesukamu, karena
Aku benar-benar telah mengampunimu. Abdul A`la berkata: Aku tidak
mengetahui apakah Allah berfirman "berbuatlah sesukamu" pada yang ketiga
kali atau keempat kali. (Shahih Muslim No.4953)
4. Tentang kecemburuan Allah Taala dan larangan perbuatan keji
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian
daripada Allah maka oleh karena itulah Dia memuji Zat-Nya sendiri. Dan
tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah maka karena itu
Allah mengharamkan perbuatan keji. (Shahih Muslim No.4955)
• Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah
saw. bersabda: Sesungguhnya Allah itu cemburu dan orang yang beriman
juga cemburu. Kecemburuan Allah, yaitu jika orang mukmin melakukan apa
yang diharamkan. (Shahih Muslim No.4959)
5. Firman Allah Taala: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus dosa perbuatan-perbuatan buruk
• Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra.:
Bahwa
seorang lelaki telah mencium seorang perempuan, lalu orang datang
menemui Nabi saw. untuk menceritakan hal itu kepada beliau. Maka
turunlah ayat: Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan baik itu menghapus dosa perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau ingat. Lelaki itu
bertanya: Apakah ayat ini untukku, wahai Rasulullah? Rasulullah saw.
bersabda: Untuk siapa saja di antara umatku yang melakukan hal itu.
(Shahih Muslim No.4963)
• Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:
Seorang
lelaki datang menemui Nabi saw. lalu berkata: Ya Rasulullah! Aku telah
melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah hukuman itu atas diriku!
Kemudian tibalah waktu salat dan ia pun ikut salat bersama Rasulullah
saw. Setelah menyelesaikan salat, orang itu berkata lagi: Ya Rasulullah!
Sesungguhnya aku telah melanggar hukum hudud, maka laksanakanlah
hukuman Allah itu atas diriku! Rasulullah saw. bertanya: Apakah engkau
ikut melaksanakan salat bersama kami? Orang itu menjawab: Ya! Rasulullah
saw. bersabda: Kamu telah diampuni. (Shahih Muslim No.4965)
6. Diterimanya tobat seorang pembunuh, meskipun telah banyak membunuh
• Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
Bahwa
Nabi saw. bersabda: Di antara umat sebelum kamu sekalian terdapat
seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lalu
dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling berilmu, kemudian dia
ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatangi pendeta tersebut
dan mengatakan, bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang,
apakah tobatnya akan diterima? Pendeta itu menjawab: Tidak! Lalu
dibunuhnyalah pendeta itu sehingga melengkapi seratus pembunuhan.
Kemudian dia bertanya lagi tentang penduduk bumi yang paling berilmu
lalu ditunjukkan kepada seorang alim yang segera dikatakan kepadnya
bahwa ia telah membunuh seratus jiwa, apakah tobatnya akan diterima?
Orang alim itu menjawab: Ya, dan siapakah yang dapat menghalangi tobat
seseorang! Pergilah ke negeri Anu dan Anu karena di sana terdapat kaum
yang selalu beribadah kepada Allah lalu sembahlah Allah bersama mereka
dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu itu negeri yang penuh
dengan kejahatan! Orang itu pun lalu berangkat, sampai ketika ia telah
mencapai setengah perjalanan datanglah maut menjemputnya. Berselisihlah
malaikat rahmat dan malaikat azab mengenainya. Malaikat rahmat berkata:
Dia datang dalam keadaan bertobat dan menghadap sepenuh hati kepada
Allah. Malaikat azab berkata: Dia belum pernah melakukan satu perbuatan
baik pun. Lalu datanglah seorang malaikat yang menjelma sebagai manusia
menghampiri mereka yang segera mereka angkat sebagai penengah. Ia
berkata: Ukurlah jarak antara dua negeri itu, ke negeri mana ia lebih
dekat, maka ia menjadi miliknya. Lalu mereka pun mengukurnya dan
mendapatkan orang itu lebih dekat ke negeri yang akan dituju sehingga
diambillah ia oleh malaikat rahmat. (Shahih Muslim No.4967)
7. Tentang berita bohong dan diterima tobat orang yang menuduh
• Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata:
Apabila
Rasulullah saw. hendak keluar dalam suatu perjalanan selalu mengadakan
undian di antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang
keluar undiannya, maka Rasulullah saw. akan berangkat bersamanya. Aisyah
berkata: Lalu Rasulullah saw. mengundi di antara kami untuk menentukan
siapa yang akan ikut dalam perang dan ternyata keluarlah undianku
sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah saw. Peristiwa itu terjadi
setelah diturunkan ayat hijab (Al-Ahzab ayat 53) di mana aku dibawa
dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami. Pada suatu
malam ketika Rasulullah saw. selesai berperang lalu pulang dan kami
telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat. Aku
pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan
lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara. Seusai
melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri unta tungganganku
namun saat meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara
Zifar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan
karena pencarian itu. Sementara orang-orang yang bertugas membawaku
mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung
untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada
di dalamnya. Ia menambahkan: Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh
ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya
mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak
merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta.
Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun
segera menggerakkan unta itu dan berangkat. Aku baru menemukan kalung
itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat
perhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana. Lalu aku menuju ke
tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan
kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk
mengalahkanku sehingga aku pun tertidur. Ternyata ada Shafwan bin
Muaththal As-Sulami Az-Dzakwani yang tertinggal di belakang pasukan
sehingga baru dapat berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia
sampai di tempatku. Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang
sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku
karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab. Aku terbangun oleh
ucapannya, "inna lillaahi wa inna ilaihi raji`uun" pada saat dia
mengenaliku. Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung dan demi Allah,
dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun
tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapan "inna lillahi wa
inna ilaihi raji`uun". Kemudian ia menderumkan untanya dan memijak
kakinya, sehingga aku dapat menaikinya. Dan ia pun berangkat sambil
menuntun unta yang aku tunggangi hingga kami dapat menyusul pasukan yang
sedang berteduh di tengah hari yang sangat panas. Maka celakalah
orang-orang yang telah menuduhku di mana yang paling besar berperan
ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Sampai kami tiba di Madinah dan aku
pun segera menderita sakit setiba di sana selama sebulan. Sementara
orang-orang ramai membicarakan tuduhan para pembuat berita bohong
padahal aku sendiri tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu. Yang
membuatku gelisah selama sakit adalah bahwa aku tidak lagi merasakan
kelembutan Rasulullah saw. yang biasanya kurasakan ketika aku sakit.
Rasulullah saw. hanya masuk menemuiku, mengucapkan salam, kemudian
bertanya: Bagaimana keadaanmu? Hal itu membuatku gelisah, tetapi aku
tidak merasakan adanya keburukan, sampai ketika aku keluar setelah
sembuh bersama Ummu Misthah ke tempat pembuangan air besar di mana kami
hanya keluar ke sana pada malam hari sebelum kami membangun tempat
membuang kotoran (WC) di dekat rumah-rumah kami. Kebiasaan kami sama
seperti orang-orang Arab dahulu dalam buang air. Kami merasa terganggu
dengan tempat-tempat itu bila berada di dekat rumah kami. Aku pun
berangkat dengan Ummu Misthah, seorang anak perempuan Abu Ruhum bin
Muthalib bin Abdi Manaf dan ibunya adalah putri Shakher bin Amir, bibi
Abu Bakar Sidik. Putranya bernama Misthah bin Utsatsah bin Abbad bin
Muththalib. Aku dan putri Abu Ruhum langsung menuju ke arah rumahku
sesudah selesai buang air. Tiba-tiba Ummu Misthah terpeleset dalam
pakaian yang menutupi tubuhnya sehingga terucaplah dari mulutnya
kalimat: Celakalah Misthah! Aku berkata kepadanya: Alangkah buruknya apa
yang kau ucapkan! Apakah engkau memaki orang yang telah ikut serta
dalam perang Badar? Ummu Misthah berkata: Wahai junjunganku, tidakkah
engkau mendengar apa yang dia katakan? Aku menjawab: Memangnya apa yang
dia katakan? Ummu Misthah lalu menceritakan kepadaku tuduhan para
pembuat cerita bohong sehingga penyakitku semakin bertambah parah.
Ketika aku kembali ke rumah, Rasulullah saw. masuk menemuiku, beliau
mengucapkan salam kemudian bertanya: Bagaimana keadaanmu? Aku berkata:
Apakah engkau mengizinkan aku mendatangi kedua orang tuaku? Pada saat
itu aku ingin meyakinkan kabar itu dari kedua orang tuaku. Begitu
Rasulullah saw. memberiku izin, aku pun segera pergi ke rumah orang
tuaku. Sesampai di sana, aku bertanya kepada ibu: Wahai ibuku, apakah
yang dikatakan oleh orang-orang mengenai diriku? Ibu menjawab: Wahai
anakku, tenanglah! Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang
sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti
banyak berita kotor dilontarkan kepadanya. Aku berkata: Maha suci Allah!
Apakah setega itu orang-orang membicarakanku? Aku menangis malam itu
sampai pagi air mataku tidak berhenti mengalir dan aku tidak dapat tidur
dengan nyenyak. Pada pagi harinya, aku masih saja menangis. Beberapa
waktu kemudian Rasulullah saw. memanggil Ali bin Abu Thalib dan Usamah
bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya ketika wahyu
tidak kunjung turun. Usamah bin Zaid memberikan pertimbangan kepada
Rasulullah saw. sesuai dengan yang ia ketahui tentang kebersihan
istrinya (dari tuduhan) dan berdasarkan kecintaan dalam dirinya yang ia
ketahui terhadap keluarga Nabi saw. Ia berkata: Ya Rasulullah, mereka
adalah keluargamu dan kami tidak mengetahui dari mereka kecuali
kebaikan. Sedangkan Ali bin Abu Thalib berkata: Semoga Allah tidak
menyesakkan hatimu karena perkara ini, banyak wanita selain dia
(Aisyah). Jika engkau bertanya kepada budak perempuan itu (pembantu
rumah tangga Aisyah) tentu dia akan memberimu keterangan yang benar.
Lalu Rasulullah saw. memanggil Barirah (jariyah yang dimaksud) dan
bertanya: Hai Barirah! Apakah engkau pernah melihat sesuatu yang
membuatmu ragu tentang Aisyah? Barirah menjawab: Demi Zat yang telah
mengutusmu membawa kebenaran! Tidak ada perkara buruk yang aku lihat
dari dirinya kecuali bahwa Aisyah adalah seorang perempuan yang masih
muda belia, yang biasa tidur di samping adonan roti keluarga lalu
datanglah hewan-hewan ternak memakani adonan itu. Kemudian Rasulullah
saw. berdiri di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin
Salul. Di atas mimbar itu, Rasulullah saw. bersabda: Wahai kaum
muslimin, siapakah yang mau menolongku dari seorang yang telah sampai
hati melukai hati keluarga? Demi Allah! Yang kuketahui pada keluargaku
hanyalah kebaikan. Orang-orang juga telah menyebut-nyebut seorang lelaki
yang kuketahui baik. Dia tidak pernah masuk menemui keluargaku
(istriku) kecuali bersamaku. Maka berdirilah Saad bin Muaz Al-Anshari
seraya berkata: Aku yang akan menolongmu dari orang itu, wahai
Rasulullah. Jika dia dari golongan Aus, aku akan memenggal lehernya dan
kalau dia termasuk saudara kami dari golongan Khazraj, maka engkau dapat
memerintahkanku dan aku akan melaksanakan perintahmu. Mendengar itu,
berdirilah Saad bin Ubadah. Dia adalah pemimpin golongan Khazraj dan
seorang lelaki yang baik tetapi amarahnya bangkit karena rasa fanatik
golongan. Dia berkata tertuju kepada Saad bin Muaz: Engkau salah! Demi
Allah, engkau tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu untuk
membunuhnya! Lalu Usaid bin Hudhair saudara sepupu Saad bin Muaz,
berdiri dan berkata kepada Saad bin Ubadah: Engkau salah! Demi Allah,
kami pasti akan membunuhnya! Engkau adalah orang munafik yang berdebat
untuk membela orang-orang munafik. Bangkitlah amarah kedua golongan
yaitu Aus dan Khazraj, sehingga mereka hampir saling berbaku-hantam dan
Rasulullah saw. masih berdiri di atas mimbar terus berusaha meredahkan
emosi mereka mereka hingga mereka diam dan Rasulullah saw. diam.
Sementara itu, aku menangis sepanjang hari, air mataku tidak berhenti
mengalir dan aku pun tidak merasa nyenyak dalam tidur. Aku masih saja
menangis pada malam berikutnya, air mataku tidak berhenti mengalir dan
juga tidak merasa enak tidur. Kedua orang tuaku mengira bahwa tangisku
itu akan membelah jantungku. Ketika kedua orang tuaku sedang duduk di
sisiku yang masih menangis, datanglah seorang perempuan Ansar meminta
izin menemuiku. Aku memberinya izin lalu dia pun duduk sambil menangis.
Pada saat kami sedang dalam keadaan demikian, Rasulullah saw. masuk.
Beliau memberi salam, lalu duduk. Beliau belum pernah duduk di dekatku
sejak ada tuduhan yang bukan-bukan kepadaku, padahal sebulan telah
berlalu tanpa turun wahyu kepada beliau mengenai persoalanku. Rasulullah
saw. mengucap syahadat pada waktu duduk kemudian bersabda: Selanjutnya.
Hai Aisyah, sesungguhnya telah sampai kepadaku bermacam tuduhan tentang
dirimu. Jika engkau memang bersih, Allah pasti akan membersihkan dirimu
dari tuduhan-tuduhan itu. Tetapi kalau engkau memang telah berbuat
dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya.
Sebab, bila seorang hamba mengakui dosanya kemudian bertobat, tentu
Allah akan menerima tobatnya. Ketika Rasulullah saw. selesai berbicara,
air mataku pun habis sehingga aku tidak merasakan satu tetespun
terjatuh. Lalu aku berkata kepada ayahku: Jawablah untukku kepada
Rasulullah saw. mengenai apa yang beliau katakan. Ayahku menyahut: Demi
Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw.
Kemudian aku berkata kepada ibuku: Jawablah untukku kepada Rasulullah
saw.! Ibuku juga berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus
kukatakan kepada Rasulullah saw. Maka aku pun berkata: Aku adalah
seorang perempuan yang masih muda belia. Aku tidak banyak membaca
Alquran. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar semua ini,
hingga masuk ke hati kalian, bahkan kalian mempercayainya. Jika aku
katakan kepada kalian, bahwa aku bersih dan Allah pun tahu bahwa aku
bersih, mungkin kalian tidak juga mempercayaiku. Dan jika aku mengakui
hal itu di hadapan kalian, sedangkan Allah mengetahui bahwa aku bersih,
tentu kalian akan mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menemukan
perumpamaan yang tepat bagiku dan bagi kalian, kecuali sebagaimana
dikatakan ayah Nabi Yusuf: Kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan
Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian
ceritakan. Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku. Demi
Allah, pada saat itu aku yakin diriku bersih dan Allah akan menunjukkan
kebersihanku. Tetapi, sungguh aku tidak berharap akan diturunkan wahyu
tentang persoalanku. Aku kira persoalanku terlalu remeh untuk
dibicarakan Allah Taala dengan wahyu yang diturunkan. Namun, aku
berharap Rasulullah saw. akan bermimpi bahwa Allah membersihkan diriku
dari fitnah itu. Rasulullah saw. belum lagi meninggalkan tempat duduknya
dan tak seorang pun dari isi rumah ada yang keluar, ketika Allah Taala
menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Tampak Rasulullah saw. merasa
kepayahan seperti biasanya bila beliau menerima wahyu, hingga bertetesan
keringat beliau bagaikan mutiara di musim dingin, karena beratnya
firman yang diturunkan kepada beliau. Ketika keadaan yang demikian telah
hilang dari Rasulullah saw. (wahyu telah selesai turun), maka sambil
tertawa perkataan yang pertama kali beliau ucapkan adalah:
Bergembiralah, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkan
dirimu dari tuduhan. Lalu ibuku berkata kepadaku: Bangunlah! Sambutlah
beliau! Aku menjawab: Demi Allah, aku tidak akan bangun menyambut
beliau. Aku hanya akan memuji syukur kepada Allah. Dialah yang telah
menurunkan ayat Alquran yang menyatakan kebersihanku. Allah Taala
menurunkan ayat: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu
adalah dari golonganmu juga, dan sepuluh ayat berikutnya. Allah
menurunkan ayat-ayat tersebut yang menyatakan kebersihanku. Abu Bakar
yang semula selalu memberikan nafkah kepada Misthah karena kekerabatan
dan kemiskinannya, pada saat itu mengatakan: Demi Allah, aku tidak akan
lagi memberikan nafkah kepadanya sedikitpun selamanya, sesudah apa yang
dia katakan terhadap Aisyah. Sebagai teguran atas ucapan itu, Allah
menurunkan ayat selanjutnya ayat: Dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian, bersumpah bahwa
mereka tidak akan memberi bantuan kepada kaum kerabat mereka,
orang-orang miskin sampai pada firman-Nya: Apakah kalian tidak ingin
bahwa Allah mengampuni kalian. (Hibban bin Musa berkata: Abdullah bin
Mubarak berkata: Ini adalah ayat yang paling aku harapkan dalam Kitab
Allah). Maka berkatalah Abu Bakar: Demi Allah, tentu saja aku sangat
menginginkan ampunan Allah. Selanjutnya dia (Abu Bakar) kembali
memberikan nafkah kepada Misthah seperti sediakala dan berkata: Aku
tidak akan berhenti memberikannya nafkah untuk selamanya. Aisyah
meneruskan: Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Zainab binti Jahsy,
istri Nabi saw. tentang persoalanku: Apa yang kamu ketahui? Atau apa
pendapatmu? Zainab menjawab: Wahai Rasulullah, aku selalu menjaga
pendengaran dan penglihatanku (dari hal-hal yang tidak layak). Demi
Allah, yang kuketahui hanyalah kebaikan. Aisyah berkata: Padahal dialah
yang menyaingi kecantikanku dari antara para istri Nabi saw. Allah
menganugerahinya dengan sikap warak (menjauhkan diri dari maksiat dan
perkara meragukan) lalu mulailah saudara perempuannya, yaitu Hamnah
binti Jahsy, membelanya dengan rasa fanatik (yakni ikut menyebarkan apa
yang dikatakan oleh pembuat cerita bohong). Maka celakalah ia bersama
orang-orang yang celaka. (Shahih Muslim No.4974
No comments:
Post a Comment